Tampilkan postingan dengan label UGM About. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UGM About. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2012

Speaker-Bedah Buku

BEM FTP UGM Present
Bedah Buku, Buka Dunia
Jumat, 28 September 2012 @Ruang 384 FTP UGM
Oleh Eko Prasetyo Penulis Buku
--Minggir! Saatnya Gerakan Muda yang Memimpin
 --






Senin, 02 April 2012

Jalejo: Alternatif Tepung Bergizi


(adm/25 Jan 2012)
Telah banyak tercipta berbagai inovasi tepung sebagai bahan industri pangan. Mulai dari tepung jagung, tepung ubi jalar, tepung kasava, tepung kentang, dan sebagainya. Kini tepung tidak hanya terbuat dari satu bahan dasar namun tiga.
Jalejo adalah singkatan dari Jagung, Kedelai dan Kacang Hijau yang merupakan tepung komposit dari tiga jenis bahan pangan yaitu jagung, kedelai dan kacang hijau. Tepung ini memiliki kandungan gizi per 100 gr yaitu protein 18.9 gr, kalsium 94 mg, zat besi 4.9 mg, kalori 397 kalori, vitamin A 322 SI dan Vitamin B1 0.62 mg (Dinas Pertanian, 2008).
Layaknya tepung pada umumnya, Jalejo juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan berbagai macam olahan makanan dan dapat mensubtitusi tepung terigu. Karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi, Jalejo dapat dimanfaatkan sebagai tambahan makanan bayi dengan mencampur ke dalam bubur susu (MPASI). Selain itu penggunaan tepung jalejo sangat baik bagi penderita autis karena tidak mengandung terigu.
BPTP Jakarta telah melakukan kajian penggunaan tepung Jalejo terhadap produk makanan yang di bakar, goreng dan kukus. Makanan tersebut dalam bentuk cake, donat dan bolu kukus. Hasil kajian menunjukkan bahwa tepung Jalejo dapat menggantikan penggunaan terigu pada jenis olahan tersebut sebesar 30-60 persen dengan tingkat kesukaan yang masih diterima oleh konsumen.
Tepung jalejo juga dapat memberikan warna yang lebih cerah pada makanan yang dihasilkan karena adanya warna kuning dari tepung jagung, disamping itu karena bahan baku jalejo mengandung kadar gula sehingga dapat mengurangi penggunaan gula pada produk olahan. 
Seperti halnya dengan penggunaan tepung ubi jalar, dengan adanya hasil kajian ini banyak kelompok tani olahan yang mau mencoba menggunakan tepung jalejo untuk dibuat berbagai macam olahan. Pemda DKI Jakarta melalui Dinas dan Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan telah mulai memperkenalkan tepung jalejo sebagai bahan baku untuk membuat berbagai makanan.

Sabtu, 31 Maret 2012

Light Trap: Pemonitor dan Pengendali Serangga


(hms/27 Jan 2012)
Serangan hama tanaman tidak dapat dihindarkan. Namun bukan berarti tidak dapat dicegah sejak dini, salah satunya dengan menggunakan Lampu Perangkap.
Lampu perangkap merupakan suatu unit alat untuk menangkap atau menarik serangga yang tertarik cahaya pada waktu malam hari. Alat ini berfungsi untuk mengetahui keberadaan atau jumlah populasi serangga di lahan pertanian.
Komponen utama dari lampu perangkap atau yang dikenal juga dengan light trap ini yaitu lampu, corong dan kantung plastik, serta rangka beratap. Lampu, dengan daya minimal 100watt, berfungsi untuk menarik serangga pada waktu malam hari. Corong merupakan tempat masuknya serangga, kantung plastik berfungsi untuk menampung serangga yang tertangkap. Kemudian, rangka beratap fungsinya untuk melindungi lampu dan hasil tangkapan terutama dari hujan.

Cara kerja perangkap ini, lampu diletakkan di dalam lahan sawah di pinggir pematang. Letak bisa disesuaikan dengan kondisi tempat karena alat ini menggunakan lampu sehingga memerlukan sumber aliran listrik. Satu unit lampu perangkap sebagai monitoring dapat digunakan untuk luasan 300-500 ha, sedangkan untuk pengendalian seluas 50 ha.
Lampu dinyalakan setiap hari mulai dari pukul 6 pagi – 6 sore dan hasil tangkapan diambil setiap pagi kemudian diamati jenis serta jumlah serangga yang tertangkap.

Selain untuk monitoring, lampu perangkap tersebut juga sebagai pengendali. Mendeteksi dini wereng coklat imigran dan Ngengat penggerek batang padi sehingga dapat mengetahui datangnya hama imigran dan puncak tangkapan populasi suatu hama.
Rekomendasi waktu semai atau tanam adalah 15 hari setelah puncak hasil tangkapan. Untuk pengendalian penggerek batang padi, 4 hari setelah adanya penerbangan (hasil tangkapan) dilakukan penyemprotan insektisida. Pada saat kondisi lahan sedang bera atau pengolahan tanah, lampu perangkap digunakan terus untuk memantau perkembangan populasi serangga hama terutama wereng coklat dan penggerek batang.
Serangga-serangga yang dapat tertangkap antara lain wereng coklat (dewasa makroptera), Ngengat penggerek batang padi, orong-orong (anjing tanah), kepinding tanah (Scotinophara coarctata ), Coccinella Sp, Paederus Sp, Ophionea Sp, dan lain-lain.


Pada saat populasi tinggi, lampu perangkap di BB Padi Sukamandi dapat menangkap wereng coklat 376 ribu ekor /malam/unit, Ngengat penggerek batang padi kuning 12 ribu ekor/malam/unit dan kepinding tanah 146 ribu ekor/malam/unit.

Jumat, 30 Maret 2012

Pesan Dari Sana

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.



“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Minggu, 06 November 2011

Dua Bulan Pertama Kuliah

Udah dua bulan gw kuliah di Jogja dan jauh dari orang tua, hidup sendirian, gak ada yang cerewet lagi. Walaupun baru dua bulan tapi waktu ini berasa lama banget, bukan karena gak betah sama kuliah atau gak cocok dengan lingkungannya. Baru kali ini gw ngerasa jauh banget dari orang tua dan orang-orang yang gw sayang, padahal masih bisa saling kontak lewat telepon tapi rasanya tetep beda. Walaupun udah sempet ditengokin dan pulang ke jakarta tapi tetep berasa ada yang kurang, buat gw saat ini ngerasa sepi dan berasa setiap hari bosen dan gak semangat. Emang sih karena ini masih baru dan masih dalam masa adaptasi.

Gw punya masalah dengan yang namanya adaptasi dan membaur dengan lingkungan baru, disaat temen-temen gw udah pada akrab. Gw masih jalan ditempat dan belum nemuin temen seperti yang gw punya di Jakarta yang membuat gw makin bosen dan sepi disini. Gw gak habis pikir kenapa gw begini, gw cuma mao nuangin semuanya dengan tulisan dari hati gw. Gimana gw mao maju dengan pikiran kayak gini. Gimana gw bisa kalah dengan keadaan sepele kayak gini. Gimana nantinya kalo nanti orang tua gw ninggalin gw buat selamanya. Gw harus kuat, gw emang cowok yang cenggeng tapi semua hal itu buat gw makin sayang sama orang tua mereka, makin menghargai mereka, dan gw gak mao sia-siain kepercayaan dari mereka.

Just be stronger and believe that behind you any people who you love support your ways.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sepeda Kampus UGM


Pada tahun ajaran baru 2011/2012 Universitas Gajah Mada meluncurkan layanan terbarunya dalam bentuk transportasi yaitu sepeda kamus. Wow

Kebijakan ini diambil sebagai salah satu perwujudan visi pengembangan kampus dalam RIPK (Rencana Induk Pengembangan Kampus) yaitu Educopolis. Educopolis bermakna suatu lingkungan yang kondusif untuk proses pembelajaran.

Tujuannya sudah pasti untuk menciptakan udara bersih di lingkungan kampus, serta memberikan layanan transportasi kepada mahasiswa, dosen, dan karyawan dengan mudah dan pastinya gratis. Hehe

Selain itu tujuan lainnya adalah mengurangi penggunaan kendaraan bermotor oleh mahasiswa dan dosen UGM karena dinilai parkiran UGM sudah penuh. Bahkan untuk mendukung program ini mahasiswa baru angkatan tahun ini dilarang menggunakan kendaraan di lingkungan kampus.


Cara meminjamnya tentu sangat mudah cukup dengan mendaftar di stasiun sepeda terdekat dengan menuliskan nama dan waktu meminjam (belum tau apakah harus menunjukan kartu mahasisw juga atau nggak). Waktu peminjaman sepeda maksimal 30 menit dan dapat digunakan mulai pukul 06.30-16.00 kata na sih kedepan na jam operasional na mao diperpanjang sampe malem (takut banyak yang lembur kale ya).

Untuk sementara ini ada 8 titik stasiun yang ada, kedepan na mao ditambah rencananya, 8 titik tersebut diantaranya :
  1. Pos SKK Sektor Barat
  2. Perpustakaan Pusat
  3. Pos SKKK Sektor Timur (Lembah)
  4. Gelanggang Mahasiswa
  5. Fakultas Peternakan
  6. Perpustakaan Unit II
  7. KPTU Fakultas Teknik
  8. Fakultas Kedokteran Gigi

Ya mudah-mudahan program sepeda kampus ini sukses dan mendapat apresiasi dari segenap warga kampus, dan bisa mengakomodir semua yang berminat sama sepeda kampus. Kedepan na juga mudah-mudahan bisa ada program layanan transportasi lain seperti Bus Fakultas mengingat wilayah kampus yang cukup luas, hehe ini sih Cuma harapan penulis aja ya. Supaya UGM gak kalah sama universitas lain yang udah lebih maju dari bidang pelayanan transportasi dalam kampus.

Pertanian di Lahan Pasir



Pada area lahan pertanian sekarang semakin sempit, sehingga mungkin atau tidak mungkinnya teknologi baru di terapkan pada teknologi pertanian. Kegunaan pasir pantai dalam pertanian mulai di terapkan pada para petani. Lahan pasir pantai adalah Lahan pantai dicirikan oleh tekstur tanahnya yang berupa pasiran,struktur tanahnya lepas dan sangat porus,sehingga kemampuannya dalam menahan air rendah. Kondisi tersebut menjadi tidak menguntungkan bagi setiap upaya pemupukan, karena kebutuhan pupuk menjadi berlipat. Selain itu lahan pasir memiliki bahan organik dan nitrogen yang rendah. Lahan pasir seperti ini banyak kita temukan di daerah pantai salah satunya adalah daerah Kulon Progo.

Tanah jenis ini mempunyai kandungan bahan organik dan kesuburan yang rendah sehingga perlu dilakukan teknologi yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan di lahan pasir pantai adalah pemberian bahan organik, alas plastik, dan pemberian jerami diatas permukaan lahan sehingga dapat mengurangi evaporasi serta menjaga kestabilan suhu dan kelembaban tanah. Tanah pertanian membutuhkan keseimbangan antara partikel pasir, debu, dan lempung, sedangkan lahan pasir didominasi oleh pasir.



Penggunaan bahan organik, alas plastik, dan jerami dimaksudkan untuk mengurangi kehilangan air, karena kehilangan air pada tanah pasiran menyebabkan kurangnya ketersediaan air bagi tanaman. Upaya tersebut diharapkan dapat menaikkan produksi tanaman. Jerami mudah terdekomposisi, sehingga selain berfungsi sebagai penutup tanah juga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Penggunaan bahan-bahan tersebut dapat bermanfaat bagi tanah untuk menjamin penyediaan unsur hara.
Selain itu jerami juga dapat mempertahankan kelembaban dan suhu tanah serta mengurangi kehilangan air melalui evapotranspirasi, Sehingga pemberian jerami dapat mengurangi kehilangan air dan menurunkan suhu di lahan pasir pantai akibatnya kondisi di sekitar tanaman mempunyai kelembaban lebih tinggi. Bila kelembaban dapat terjaga sesuai dengan kebutuhan tanaman, maka volume air yang diberikan bisa dikurangi dari volume air yang biasa diberikan oleh petani yang tidak memberikan jerami.

Sumber : agrilands.net dan solopos.com